Judul: Lembar Rintihku
Karya: Benny Murdani
Bagas, itulah nama panggilannya. Dia memiliki saudara
yaitu Dani. Dia cerdas dan tanggap dalam segala hal. Sedangkan Bagas, Bagas
hanyalah kebalikan dari kakaknya Dani. Sering kali dia dibanding-bandingkan
dengan Dani.
Semuanya
tentang kak Dani, aku sendiri serasa tidak ada keunggulan sedikitpun dimata
orang tua dan keluargaku. Kak Dani selalu memberikan kata-kata motivasi agar
aku lebih bersemangat dalam kehidupanku. Dia sering berkata “Gas, lakukanlah
sebisamu, jangan, memaksakan segala hal agar kau terlihat bisa, jika kau gagal
jangan hiraukan kata orang lain”. Tidak ada kesombongan yang tertanam pada kak
Dani, apalagi ejekan . Tidak pernah sekalipun. Ucap Bagas.
Teman-temannya
selalu saja mengucilkannya dari pergaulan mereka. Katanya dia payah dan tak
berguna. Tidak satupun yang mendengarkan nya selain kakak dan bukunya. “Ibuku
yang telah melahirkanku, dan ayah yang selalu memberi nafkah kepada keluarga
lebih mencintai dan memberi lebih kepada kak Dani, itu menurutku. Aku selalu
menulis setiap ratapan kecil dan meneteskan airmata pada temanku buku. Mereka
selalu ingin mendengarkan cerita hidupku yang sedih ini” ucap Bagas.
Suatu
hari, terjadi perisiwa yang tidak diinginkan menimpa kakaknya. Lem/perekat yang
seharusnya mengikat kepingan triplek, mengenai bola matanya saat ditempat kerja.
Akibat kejadian itu kakaknya segera dilarikan kerumah sakit terdekat, teman
kerjanya pun yang berada di tempat kejadian ikut kerumah sakit tersebut.
Bagas yang baru saja pulang kerja, ketika membuka pintu rumah ternyata ada teman kerja kakaknya yang melaporkan kejadian tersebut. Bagas langsung menghampiri kedua orang tua nya untuk mencium tangannya, namun mereka berdua buru-buru untuk kerumah sakit. Sedangkan Bagas, bergegas manaruh tas kerjanya dan menutup pintu untuk menyusul kedua orang tua nya ke rumah sakit.
Setibanya
dia dirumah sakit, tepat didepan pintu kamar rawat kakaknya, dia tak sengaja
mendengar diskusi antara dokter dengan kedua orang tua nya. Dia sangat menyangi
orang tua dan kakak nya. Dia tak mengira hal ini akan terjadi dalam hidupnya.
Dokter mengatakan” jika bapak dan ibu ingin mata Dani kembali seperti sedia
kala harus digantikan dengan bola mata yang baru, itupun jika operasi berjalan
dengan berhasil”.
“Seketika
itu aku merasa seolah-olah bumi berhenti berputar dari orbitnya. Mengapa harus
dia? Mengapa harus kak Dani? Tuhan, tak cukupkah kau menguji ku”, gumam nya
dalam hati. Kemudian setelah dokter meninggalkan kamar rawat kakaknya, dia pun
segera menghampiri ayah dan ibunya, tak sepatah katapun terucap dari keduanya.
Namun terlihat jelas bahwa mereka sungguh mengkhawatirkan Dani.
Bagas
hampir menangis melihat orang tua nya terpuruk, sejenak terlintas dipikirannya
“apakah mereka akan seperti ini jika kehilangan aku? haha pertanyaan konyol
macam apa ini?orang tua mana yang tidak sedih jika melihat anaknya pergi
meninggalkan mereka. Adik macam apakah aku ini? Disaat seperti ini masih saja
cemburu kepada kakak ku.” Gumamnya dalam hati.
Tiba-tiba
ibu memanggil ”Bagas, kemari!” Bagas pun menghampiri ibu dan ayahnya yang
kelihatannya usai memutuskan sesuatu. “ada apa bu?” kata nya menjawab dengan
sedikit ragu. Tatapan ibunya seolah-olah ingin menerkam nya. “Apakah kau
menyayangi kakakmu?” dengan nada yang melemah, bahkan ibunya sampai menangis.
Itu sungguh membuat pertahanan air mata Bagas runtuh. “ya ibu, aku sangat
menyayangi kak Dani” dengan nada yang bergetar. “kalau begitu donorkan matamu!”
kata ayahnya dengan tegas. Dia pun menyetujui permintaan orang tua nya itu.
Besok adalah hari pengambilan barang berharga ku, aku ingin menikmatinya malam ini untuk yang terakhir kalinya, ucap Bagas. Kesabaran adalah kunci agar hidup berjalan dengan mudah, itulah yang dilakukannya saat ini. Ia berjalan menuju rak bukunya dan mengambil kumpulan rintihan hidupnya. Lalu dia menulis kata demi kata dalam bukunya.
“Aku capek dengan semua ini.
Aku lelah dengan hidup ini. Kenapa aku selalu mendapat kesedihan? Apakah tuhan
tidak sayang kepadaku? Aku ingin merasakan kebahagiaan seperti kak Dani yang
selalu mendapat kasih sayang lebih dari kedua orang tua ku. Tuhan apakah aku
tidak boleh merasakan kebahagiaan itu? Aku ingin sekali mendapatkan itu tuhan. Jika begini mengapa dulu aku
dilahirkan kedunia kejam seperti ini? Kenapa tidak sejak lahir saja aku mati?
Aku lelah, aku capek, dan aku bosan
dengan semua ini tuhan. Tolong berikan aku sedikit saja kebahagiaan
dalam hidup ku dengan kasih sayang orang tua ya tuhan. Tolong kabulkan
permintaan ku tuhan. Amin”.
Itulah isi tulisan tangan Bagas
untuk terakhir kalinya dia menggunakan matanya dalam menulis. Ia merasa sangat
sedih, ia ingin bahagia seperti orang lain.
Waktunya operasi telah tiba,
“ ini saatnya mengakhiri perjalanan dunia terang dan aku didalam akan
berhadapan dengan berbagai alat tajam” ucap Bagas, seiring berjalan menuju
kamar operasi. Bagas kemudian tidur disamping kakaknya yang buta dan dokter
memberinya obat bius dan operasi pun dimulai.
Waktu terus berlalu dan dokter yang melakukan operasi pun keluar. Dia memberi tahu bahwa operasi nya berjalan dengan lancar. Dani yang buta bisa kembali melihat dan Bagas hanya nampak warna hitam gelap dalam penglihatannya. Orang tua nya merasa gembira akan sembuhnya Dani, sementara Bagas hanya bisa meraba seiring berjalan menuju rumah setelah selesai operasi dengan bimbingan kakaknya.
Hari demi hari berlalu, detik, menit, hingga jam terasa suram dan membosankan, dalam perjalanan hidup Bagas yang tidak bisa lagi melihat cahaya seperti biasanya. Dia tidak bisa lagi pergi untuk bekerja, dia hanya bisa diam dirumah dalam kondisi yang terpuruk dan lagi sering disuruh-suruh oleh ayahnya untuk berbelanja.
Hari itu kendaraan berlalu-lalang
sangat ramai, ayahnya yang tidak peduli akan hal tersebut tetap menyuruh Bagas
yang buta untuk berbelanja ke toko yang berseberangan dengan rumahnya. Kejadian
yang tidak diinginkanpun terjadi, ketika Bagas melintasi jalan menuju took
tersebut, tiba-tiba ada mobil menabraknya, hingga membuat dia tidak sadarkan
diri. Dan dia segera dilarikan kerumah sakit dengan darah dikepala.
Setelah cukup lama menunggu,
akhirnya dokter yang memeriksa Bagas keluar. Dokter itu tidak berbicara
apa-apa, dia hanya diam sambil memandang kedua orang tua dan kakaknya Bagas.
Karena merasa bingung dengan tatapan dokter, ibu Bagas bertanya kepada dokter
“Dok, bagaimana keadaan anak saya? Anak saya baik-baik saja kan dok?, jawab
dok!”. Sang dokter manarik nafas panjang, lalu berkata” maaf, saya sudah
berusaha semaksimal mugkin, tapi tuhan berkehendak lain”. Setelah mendengar
bahwa anaknya tiada, kedua orang tua Bagas menangis.
Nasi telah menjadi bubur.
Semuanya telah terjadi, kini Bagas telah tiada. Kedua orang tuanya dan kakaknya
benar-benar merasa kehilangan.
Setelah pemakaman Bagas
selesai, orang tua Bagas masuk kedalam kamar anaknya dan mengambil buku tulisan
Bagas. Meraka membaca buku itu dengan menangis. Mereka menyesal karena saat Bagas
masih ada, mereka tidak pernah memberi kasih sayang penuh dan perhatian lebih
untuk Bagas. Meraka menyesal tapi tak bisa dikata, nasi telah menjadi bubur,
kini Bagas telah tiada.
SelesaiJ
Benny Murdani, lahir 16 Mei
2003 di Pontianak. Saat ini menjadi siswa jurusan Multimedia di SMKN 1 Sukamara.
Anak pertama dari dua bersaudara. Anak cuek yang menyukai romantis. Anak
rumahan yang gemar menulis. Tulisannya bisa dilihat di rdaniBagas.blogspot.com, kisahnya bisa diikuti di akun instagram @ben_rdani16, dan jejaknya bisa dicari di facebook "Benny Murdani".

